Seorang wanita muslimah bernama Dewi, saat itu sedang ziarah kubur Almarhum suami pilihan orang tuanya. Bunga melati sebagai tanda kehadiran, ia taburkan di atas makamnya seraya mengucap doa. Tangisan pun tak terbendung karena selama ia jadi istrinya, ia belum bisa mencintainya dengan tulus. Topengnya adalah wujud pengabdian dia kepada suami sesuai perintah agama. Ia baru bisa berterus terang di hadapan kuburnya saat itu.
Sekali lagi ia menaburkan bunga sambil merangkul hati untuk minta izinnya kembali ke pria yang selama ini ia cintai. Albert namanya, anak seorang pendeta. Sepuluh tahun sudah ia tak bertemu dan mendengar kabar Albert sejak pernikahannya. Yang tersisa hanyalah kenangan dan bunga mawar dari Albert yang sudah tersimpan seumur pernikahannya dalam kotak kecil. Ia cari kotak itu di lemarinya. Dengan gemetar ia membukanya, saat itulah terbayang Albert, kekasihnya yang menyengat jiwanya.
“Simpan bunga kering ini, sampai kau terbebas dari belenggu”, kata Albert. Kata-kata itu masih teringat jelas dalam pikiran dewi. Ia juga mengingat salam perpisahan dari Albert, “Kalau sampai waktunya nanti, kalau kita memang jodoh sejati, kirimlah bunga ini padaku kembali dan aku akan datang padamu. Aku janji!. Kalimat ini menjadi penyemangat hatinya untuk kembali menemui Albert.
Awal kisah cinta terlarang Dewi dan Albert ketika mereka ada dalam satu kampus seangkatan. Mereka mulanya bersahabat bahkan dari kecil. Mereka lahir di sebuah desa terpencil dan sering bermain bersama. Yang tak terlupakan mereka adalah saat menyeberang sungai bersama dan jembatan bambu yang mereka lewati patah. Akhirnya Dewi tercebur dan pahlawannya adalah Albert. Meskipun banyak teman lainnya saat itu. Albert adalah seorang yang lembut hatinya, meskipun sedikit liar tentang pandangan suatu agama. Dari bersahabat tumbuhlah rasa cinta, perbedaan agama tak menjadi tembok penghalang. Sebenarnya dewi juga berfikir bahwa ini adalah suatu perbuatan yang terlarang. Bahkan tergambar jelas dalam AL-quran “ Ia (Allah) yang menciptakan bagimu pasangan dari jenis kamu sendiri” [QS: Ar-Rum ayat 21]. Sehingga kadang ia berfikir bahwa Albert bukan jodohnya.
Apa yang Dewi pikirkan akhirnya jadi kenyataan. Ayahnya yang taat kepada ajaran agama tidak menyetujui hubungan dia dengan Albert. Ia mengungkapkan kepada Dewi kalau ia tidak ingin mendapat murka Allah karena membiarkan titipanNya menempuh jalan sesat. Pembicaraan ini akhirnya berujung kepada perjodohan Dewi dengan Joko. Mulut dewi terkunci tak bisa menjawab apa-apa. Keinginan hati untuk memberontak tetapi ini tidak mungkin. Tambah lagi titah Ibunya yang memperlihatkan pengorbanan Ayah Dewi untuk keluarga, membuat dia tak mau menjadi anak durhaka.. Akhirnya ia memutuskan untuk terima perjodohan itu dan menikah dengan Joko.
Meskipun ia memutuskan menikah dengan Joko, hatinya tetap saja masih dilanda kebingungan. Kadang ia beranggapan agama hanyalah tradisi. Ia bisa saja tidak mengikuti tradisi itu. Toh ada juga pandangan lain yang menerima pernikahan beda agama. Tetapi ia menyadari kalau dalam ajaran agama yang sudah ia benam dalam hatinya ia mesti menikah dengan seorang santri juga. Putusan ini ia mantapkan karena Joko selain seagama, ia juga cerdas dan santun. Dia berharap seiring berjalannya waktu ia akan bisa mencintainya dan hidup rukun.
Akhirnya pernikahan meriah itu terjadi. Mereka hidup dalam satu keluarga. Joko bekerja sebagai Pegawai negeri biasa, sedangkan Dewi sebagai karyawan swasta. Keluarga mereka tenang-tenang saja. Tetapi ketenangan dan kealiman Joko malah membuat Dewi jadi beku. Hatinya belum bisa dimiliki. Pernikahan ini sudah berlangsung 9 tahun tetapi Dewi belum juga hamil. Di tahun tersebut Joko malah sakit berkepanjangan. Sebagai istri yang baik dalam ajaran agamanya, ia akhirnya keluar dari pekerjaan dan merawat suaminya. Ia berdoa semoga suaminya sembuh, tapi ini bukan cinta pikirnya, melainkan hanya wujud bakti belaka. Tiba waktunya vonis dokter mengatakan umur suaminya tidak lama lagi. Joko akhirnya menghembuskan nafasnya terakhir. Dewi merasa bersalah karena ia tetap gagal mencintai suaminya meskipun ia berusaha keras menjadi istri yang baik dan setia. Inilah perjalanan rumah tangga dewi dengan joko.
Sudah setahun Dewi menjanda. Pikirannya telah dirasuki bahasa indahnya filsafat dan sastra yang menaklukkan nuraninya. Dia mulai mengenang masa-masa indahnya sebagai mahasiswi di kampus.
Setelah dibukanya kotak kecil berisi bunga mawar kering, saatnya dewi menyampaikan niatnnya kembali ke cinta lamanya, Albert. Orang tuanya tetap pada putusannya kalau mereka tidak setuju jika ia kawin beda agama. Nurani dewi yang sudah terhipnotis cinta membuatnya tetap pada pendiriannya. Ia sudah tak pedulikan agama dan orang tuanya. Maka diposkannya bunga itu ke alamat Albert. Lama tak terjawab hati dewi mulai bertanya, “Apakah janji sudah dilupakan?”.
Tibalah sore hari tak terduga itu, seorang ibu Albert mengetuk pintu. Begitu kagetnya si Dewi. Saat itu juga Ibu Albert memeluknya dan mengatakan kalau sejak pernikahan itu terjadi, Albert melalang buana. Gunung demi gunung ia daki. Sampai akhirnya ada kabar kalau ia meninggal dunia di sebuah gunung dan dimakamkan di sana. Suara Ibu Albert terbata-bata menahan tangis sedang dewi menjerit sekuatnya sambil memeluk kuat Ibu itu. Ibu itu selanjutnya menunjukkan surat Albert sebelum pendakian terakhir teruntuk seseorang yang sudah kirimkan kuntum bunga mawar. Tak sabar, dengan tangan gemetar Dewi membuka surat itu.
Dewi,…
Mungkin sudah kaukirim kembali
Bunga kering itu sekarang.
Tapi yang akan kauterima
Hanya surat ini.
Aku tak berniat mengingkari janji!
Aku sekarang mungkin di alam lain
Dan janjiku tetap seperti dulu:
Cintaku hanya untukmu
Yang tak sampai hanya karena kita beda agama.
Dipeluk dan diciuminnya surat itu berkali-kali hingga basah. Hati dewi menjerit tak kuasa. Tapi hatinya tahu, inilah takdir Tuhan yang terbaik.
#LOMBA REVIEW PUISI ESAY DENNY JA#